MESKI,KU BENCI KAU TETAP AHRUS PERGI

Matahari mulai terjuntai di upuk barat, lalu terprosok kedalam jurang kesunyian. Angin bersama kabut menyibakan aura dingin di musim kemarau yang kian galau, karena seseorang yang kuimpikan disisiku selamanya akan mulai pergi bulan depan. Meski pergi, bukan dari kehidupanku dan hatiku namun tetap saja keteiadaanya untuk beberapa minggu atau beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kedepan akan meninggalkan jejak kerinduan yang tak mungkin bisa ku hapus hanya lewat telephon atau pun SMS.

Perempuanku,,,aku menuliskan ini untukmu, bukan berarti aku meratapi kepergianmu.
Jika kau bertanya, “apa kamu izinkan aku pergi untuk beberapa waktu yang telah kita sepakati dan pergi untuk kembali pada hatimu pula??”

Maka, jangan harap kau mendapati jawabannya tergelayut dibibirku. Saat ini, Benaku masih sibuk oleh pergulatan antara harapan dan kebencian. Bagaimana pun, kau adalah harapan untuk kerapuhan jiwaku saat ini, namun saat itu pula kau adalah tempat bagi kebencianku yang murka jika kau benar-benar jadi pergi dari hatiku. Sepertinya, cukup berat bagiku untuk melepas jeratan kenyatan. Aku telah menaruh harapan sekaligus memulasara kebencian terhadapmumu. Namun, biarlah !!...aku begitu mempercayai kepolosanmu—jika kata kesetian itu menakutkan untuk dikatakan—kau akan menerima keduanya dariku walau mungkin dengan hati sedikit mengiba. Karena memang begitulah keharusannya. “menerima apa pun yang ada di tangan kekasih kita”—begitulah rumi pernah bersambda.

Perempuanku...walau memeberi sensasi kepuasan dalam jiwaku membicarakan


masa yang akan datang, tapi benaku tak ingin jatuh pada jurang gelap praduga lalu mengira-ngira bahwa kebahagian akan segera datang. Aku tak ingin harapku dikelabuhi oleh angan-angan yang tak beralasan, atau mimipi yang tak mampu ku maknai. Yang pasti, perempuanku...hidup ini bagai uang koin yang memiliki dua sisi yang berbeda. Dualisme yang tak mungkin terjadi pada waktu bersamaan, dan dualisme itu kini sedang ku alami dan rasakan.

Di pagi hari bersama segelas kopi, saat ini, saat dimana kau sekarang mungkin sedang memahaminya. Sungguh aku merindukanmu—berharap kau menemaniku menuliskan kisah ini—tapi nyatanya, kau malah akan sebentar lagi pergi. Rindu begitu cepat berlalu, kini bnci mulai menyakiti saat aku harus  berada dalam ketiadaanmu.

Muara rinduku,,,walau kau mampu memahami suasana hatiku saat ini. Tapi aku tetap akan meng-izinkanmu pergi bahkan jika kau mencoba untuk merubah keputusanmu_untuk tak jadi pergi_Demi Tuhan aku tak ingin melihaatmu lagi.

Kau harus pergi perempuanku...
Kau harus mempelajari hidup...
Kau harus merasakan arti sebuah kebebasan...dari dunia yang berabad-abad telah dikekang oleh norma, paradigma dan para pelaku agama.



Good luck !!!...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prompt untuk membuat gambar animasi sydney